• Sa’i
Di sekitar Masjidil Haram banyak terdapat gerai-gerai tukang cukur berizin resmi bagi jamaah haji dan Umrah yang dilengkapi dengan fasilitas pencukuran yang aman dalam lingkungan yang sehat.

Ketika barada di tukang cukur, pastikanlah hal-hal berikut ini

  • Hendaknya tukang cukur menggunakan pisau cukur berpegangan plastik untuk sekali pakai
  • Pastikanlah bahwa tukang cukur mengganti alat cukur setelah selesai mencukur satu orang konsumen, dan mengeluarkan alat cukur baru
  • Pastikan bahwa tukang cukur sudah mencuci tangannya dengan sabun dan air sebelum mulai mencukur
Disyariatkan mencukur rambut kepala atau memendekkannya dalam rangka ibadah karena Allah setelah selesai rangkaian haji dan Umrah, sebagaimana orang yang Ihram yang beribadah kepada Allah dengan tanpa mencukur rambutnya, maka ia dalam dua keadaan, yaitu penyembah Allah dan orang yang berserah diri pada-Nya.

Mencukur dan memendekkan rambut dalam haji

  • Hal itu dilakukan setelah melempar Jamrah Aqabah pada hari raya kurban.

Mencukur dan memendekkan rambut dalam Umrah

  • Hal itu dilakukan setelah selesai Thawaf dan Sa’i.

Mencukur dan memendekkan rambut bagi laki-laki

  • Disyariatkan bagi jamaah haji dan Umrah untuk mencukur rambut, dan itu lebih utama, atau memendekkan seluruh rambut kepala atau sebagian besarnya.

Memendekkan rambut saja bagi perempuan

  • Perempuan tidak disyariatkan mencukur, namun hanya memendekkan rambut, baik dalam berhaji atau Umrah, ia menggenggam rambutnya lalu mencukur ujung-ujungnya sekitar 1-2 cm.

Perhatian

  • Jamaah haji dan Umrah sebaiknya mencukur rambut di tempat-tempat yang telah ditentukan demi menjaga kebersihan Masjidil Haram dan melindunginya dari beberapa penyakit.
Orang yang tidak mampu berjalan atau kelelahan, sakit, dan capek, maka ia boleh melakukan Sa’i dengan menggunakan kursi roda. Ia harus tetap berada dalam kondisi tersadar (terjaga) karena sedang dalam ibadah dan mengisi seluruh waktunya untuk berdoa dan merendahkan diri kepada Allah, seraya bertakbir dan berdoa setiap kali sampai ke Shafa atau Marwah.

Masjidil Haram menyediakan beberapa macam kursi roda untuk Thawaf dan Sa’i

Kursi roda khusus jamaah haji

  • Orang yang datang dengan membawa kursi rodanya sendiri untuk dipergunakan, dipersilahkan untuk menggunakannya, dengan syarat ia masuk melalui jalur khusus kursi roda

Kursi roda gratis

  • Ada banyak kursi roda gratis yang bisa digunakan oleh jamaah Umrah dan haji jika ia ada orang yang membantu mendorongnya dalam Sa’i

Kursi roda gratis ini bisa didapatkan di:

  • Area timur (pintu masuk angkutan umum)
  • Area selatan (samping wakaf Raja Abdul Aziz)
  • Area barat (pintu masuk Asy-Syubaikah)

Layanan pendorongan kursi roda

  • Kursi roda yang disiapkan untuk jamaah haji dan Umrah didorong oleh petugas khusus

Tempat-tempat layanan pendorongan kursi roda tersedia di

  • Tempat Thawaf lantai dasar (garis start) (link web)
  • Tempat Sa’i lantai dasar (pintu no. 14)
  • Tempat Sa’i lantai dua (tangga-tangga bernomor)
  • Terminal Raja Abdul Aziz

Kursi roda listrik

  • Yaitu kursi roda listrik yang aman serta mudah dikemudikan dan dikendalikan untuk Thawaf dan Sa’i
  • Kursi roda ini terbagi dua, yaitu untuk satu orang dan untuk sepasang (dua orang)

Tempat-tempat pelayanan

  • kursi roda listrik ini bisa ditemukan di lantai pertama untuk Thawaf dan Sa’i.

Apa itu Shafa dan Marwah?

  • Shafa dan Marwah adalah dua bukit yang dinaiki Hajar ibu Nabi Ismail alaihissalam untuk mencari makanan atau air.

Shafa

  • Bukit kecil yang menjadi awal dimulainya Sa’i. Bebatuan bukit ini masih nampak di lantai dasar tempat Sa’i (Mas’a).

Marwah

  • Bukit kecil yang menjadi akhir putaran Sa’i.

Sa’i merupakan syiar yang agung

  • Sa’i antara Shafa dan Marwah termasuk syiar haji dan Umrah. Allah SWT berfirman: {Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar-syiar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau Umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan Sa’i antara keduanya}.
  • Orang yang berumrah dan berhaji melakukan ibadah kepada Tuhannya dengan menempuh jarak antara Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wasallam).

Permulaan dan Akhir Sa’i

  • Sa’i dimulai dari Shafa menuju Marwah, ketika Anda sampai ke Marwah maka Anda dianggap telah menyempurnakan satu putaran, dan ketika Anda kembali ke Shafa maka Anda dhitung telah menyempurnakan putaran kedua, demikian seterusnya hingga Anda menyempurnakan tujuh putaran di Marwah.

Doa di Permulaan Bukit Shafa dan Marwah

  • Ketika Anda sampai pada awal Shafa atau Marwah di awal setiap putaran, maka Anda disunnahkan mengangkat kedua tangan dengan menghadap kiblat, seraya berdoa kepada Allah dan mengumandangkan takbir sebelum memulai putaran baru.

Dua Tanda Hijau

  • Disunnahkan bagi laki-laki yang mampu untuk berjalan cepat-cepat di antara dua tanda hijau, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wasallam).

Doa ketika Sa’i

  • Sebaiknya orang yang sedang melakukan Sa’i mengisi seluruh waktunya untuk berdzikir kepada Allah, berdoa, atau membaca Al-Qur’an.

Doa Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wasallam) ketika Sa’i

  • Pertama kali tiba di Shafa setelah Thawaf, beliau membaca ayat Inna Ash-Shafa wa Al-Marwata min Sya’airillah, lalu beliau mengucapkan Abdau bi Ma Badaa Allah bihi (Aku memulai dengan apa yang telah didahulukan oleh Allah)
  • Ketika menaiki Shafa atau Marwah, beliau menghadap kiblat dan mengucapkan Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, La Ilaha Illa Allah Wahdahu La Syarika Lahu, Lahu Al-Mulk wa Lahu Al-Hamdu wa Huwa Ala Kulli Syai`in Qadir, La Ilaha Illa Allah Wahdah Anjaza Wa’dahu wa Nashara ‘Abdahu wa Hazama Al-Ahzaba Wahdahu. Kemudian beliau berdoa dengan doa yang beliau kehendaki, kemudian beliau mengulanginya seperti itu tiga kali, lalu beliau memulai Sa’inya.

Sebaiknya orang yang sedang Sa’i tidak berhenti untuk berdoa di sebuah tempat yang dapat mengganggu jamaah lain dan menyebabkan kondisi berdesakan. Ia harus mematuhi petunjuk para petugas keamanan dan peraturan di Tanah Haram.

Apa itu Shafa dan Marwah?

  • Yaitu dua bukit kecil yang dulu pernah didaki oleh Hajar (ibunda Ismail alaihissalam) untuk mencari makanan atau air
  • Shafa: Sebuah bukit kecil tempat dimulainya Sa’i. Bebatuan bukit ini masih terlihat di lantai dasar sampai hari ini
  • Marwah: Sebuah bukit kecil di seberang Shafa, yang menjadi tempat berakhirnya Sa’i jamaah haji dan Umrah

Informasi tempat Sa’i dengan angka

  • Panjang jalur sa’i adalah 394 M
  • Total jarak yang ditempuh oleh seseorang ketika melakukan Sa’i dengan tujuh kali putaran kurang lebih kira-kira adalah 2761 M
  • Waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk menyelesaikan Sa’i adalah antara 45-55 menit. Kecepatan berjalan bervariasi tergantung sejumlah faktor

Jumlah Lantai Tempat Sa’i

Tempat sa’i terbagi menjadi beberapa lantai dengan luas 87.000 meter persegi, yaitu:

  • Ruang bawah tanah
  • Lantai dasar
  • Lantai Al-Mizanain untuk kursi roda atau kendaraan listrik yang terdiri dari dua lajur
  • Lantai satu
  • Lantai dua
  • Lantai atap
  • Ketika selesai Thawaf, di dalam Masjidil Haram Anda akan menemukan papan petunjuk yang akan memandu Anda menuju ke tempat Sa’i dan mengarahkan anda ke Shafa tempat dimulainya Sa’i.
  • Kami menyarankan Anda untuk pergi ke Mas`a (tempat Sa’i) di lantai atas, untuk menghindari kepadatan lantai dasar Mas’a, sekaligus untuk menciptakan kenyamanan buat diri Anda dan saudara-saudara Muslim Anda.
  • Orang yang sedang melakukan Sa’i hendaknya mengisi seluruh waktu Sa’i dengan berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT atau membaca Al-Qur’an. Dia tidak boleh berhenti untuk berdoa di tempat yang berpotensi mengganggu kelancaran lalu lintas dan menyebabkan kondisi berdesak-desakan. Dia juga harus mematuhi petunjuk dan instruksi dari petugas keamanan dan pengatur di lingkungan Masjidil Haram.
  • Mempercepat jalan ketika Sa’i untuk laki-laki hanya dilakukan di antara dua lampu hijau, tidak sepanjang waktu Sa’i.
    Jika iqamah shalat dikumandangkan, maka orang yang sedang Sa’i ikut shalat berjamaah, kemudian setelah selesai shalat dia melanjutkan untuk menyelesaikan sa’inya dari tempat di mana dia berhenti.
  • Jika Anda penderita diabetes, mulailah Sa’i dengan terlebih dulu mengkonsumsi obat dan makanan yang cukup. Jaga baik-baik kaki Anda dari hal-hal yang bisa melukainya, dan sebaiknya Anda berhenti sementara saat Anda merasakan penurunan kadar gula.
  • Anda dapat menggunakan kendaraan atau kursi roda jika merasa sakit atau tidak enak badan.
  • Hati-hati jangan sampai mencemari Masjidil Haram dengan mencukur rambut di dalam tempat Sa’i. Disediakan banyak pilihan untuk tempat cukur rambut di samping Masjidil Haram