- Thawaf
Tempat Thawaf terbagi dalam
- Pelataran lantai untuk Thawaf (di sekeliling Ka’bah)
- Lantai dasar
- Lantai satu
- Lantai M (Mizanin) yang terletak di lantai satu untuk kursi roda.
- Atap
Daya Tampung Tempat Thawaf
- Pelataran lantai untuk Thawaf: dapat menampung sekitar 30 ribu orang per jam
- Seluruh lantai: dapat menampung sekitar 107 ribu orang yang berthawaf per jam
Jamaah dapat mencapai lantai-lantai tersebut melalui jalur khusus sesuai dengan arahan para petugas keamanan. Jamaah haji dan Umrah hendaknya bekerja sama dan mematuhi arahan para petugas.

- Disunnahkan bagi laki-laki ketika melakukan Thawaf Umrah untuk menampakkan bahunya yang kanan karena mengikuti apa yang dilakukan Nabi (Shallallahu alaihi wa sallam).
- Awal disyariatkannya Idhthiba’ adalah bahwa orang-orang Quraisy mengomentari Nabi (Shallallahu alaihi wa sallam) dan sahabat beliau, “Telah datang pada kalian suatu kaum yang terlemahkan oleh sakit.” Maka Rasulullah (Shallallahu alaihi wa sallam) dan para sahabat hendak menunjukkan kekuatan dan kegigihan mereka.
- Kemudian setelah itu Rasulullah (Shallallahu alaihi wa sallam) dan para sahabat terus melakukannya, sehingga umat Islam meniru beliau dengan menampakkan kekuatan dan kegigihannya dalam menghadap Tuhannya.
- Disyariatkan Idhthiba’ dalam Thawaf Umrah dan Thawaf Qudum, namun tidak disyariatkan dalam Thawaf Ifadhah dan Thawaf Sunnah mutlak bagi selain muhrim (orang yang berihram)
.

Yaitu: Mempercepat jalan dalam Thawaf, dimana hal itu termasuk Sunnah Rasulullah (Shallallahu alaihi wasallam).
Disunnahkan bagi laki-laki jika memungkinkan, untuk mempercepat langkah mereka dan berjalan cepat dengan langkah yang pendek dalam tiga putaran pertama karena mengikuti Sunnah Rasulullah (Shallallahu alaihi wasallam), dan menyempurnakan empat putaran sisanya dengan berjalan biasa.
- Berjalan cepat ini dilakukan dengan langkah yang pendek, berbeda dengan jalan terburu-buru.
- Kesunnahan ini khusus bagi kaum laki-laki, bukan bagi perempuan.
- Disunnahkan Ar-Raml dan berjalan cepat dalam Thawaf Umrah dan Thawaf Qudum, namun tidak dalam Thawaf Ifadhah (dalam haji) dan Thawaf Wada’, serta tidak dalam Thawaf sunnah bagi selain muhrim (orang yang berihram).
- Jangan sampai ia mengganggu jamaah lain yang sedang Thawaf ketika kondisi ramai berdesakan dan tidak menyulitkan keluarganya jika ia Thawaf bersama mereka.
Raml (berjalan cepat) adalah Sunnah Thawaf bagi laki-laki dan tidak disunnahkan bagi perempuan.

Tata Cara Thawaf
- Orang yang berhaji atau Umrah memulai thawafnya dari sudut Ka’bah yang terdapat Hajar Aswad, dan ada tanda hijau yang menunjukkannya di lantai-lantai atas.
- Ia bertakbir di setiap putaran ketika posisinya sejajar dengan Hajar Aswad, dan bukan merupakan syarat harus dilakukan pada titik tertentu dimana tidak sah jika dilakukan sebelum atau sesudahnya, namun cukup dikira-kira saja. Jadi apabila orang yang berhaji atau Umrah mendapati dirinya sejajar dengan Hajar Aswad, maka hendaknya ia bertakbir.
- Tata cara bertakbir adalah ia menunjuk dengan tangannya ke Hajar Aswad, kemudian memulai Thawaf yang mana Ka’bah berada di sebelah kirinya (berlawanan dengan perputaran jarum jam).
- Mencium Hajar Aswad hukumnya sunnah bagi orang yang tidak kesulitan melakukannya, akan tetapi hal ini sulit dilakukan pada hari-hari musim haji dan Umrah dan sangat berdesak-desakan.
- Dalam thawafnya ia senantiasa berdoa dan memohon kepada Allah SWT.
- Ketika ia sampai ke Rukun (sudut) Hajar Aswad (Rukun Yamani), disunnahkan mengusapnya jika memungkinkan. (sulit dilakukan pada hari-hari musim haji atau Umrah)
- Kemudian Thawaf berakhir di Rukun Hajar Aswad, yaitu tempat dimana ia memulainya, lalu ia mengisyaratkan dengan tangannya dan bertakbir. Dengan demikian sempurnalah satu putaran.
- Mengulangi seperti itu hingga genap tujuh putaran.
Tips Saat Menunaikan Thawaf
Tips dan Arahan untuk Menunaikan Thawaf Secara Aman dan Terbaik:
- Terus lanjutkan perjalanan. Jangan berhenti di tempat putaran Thawaf, agar tidak menyebabkan kemacetan dan saling dorong
- Apapun alasannya, jangan melawan arus saat Thawaf
- Terdapat tanda pada kiswah (kain penutup) Ka’bah yang menjelaskan posisi Hajar Aswad, yaitu: terdapat tulisan “Allahu Akbar” di atas batu tersebut
- Juga terdapat lampu berwarna hijau di seluruh lantai yang digunakan untuk melakukan Thawaf, dimana lampu itu sejajar dengan Hajar Aswad
Ketika melaksanakan Thawaf Sunnah, patuhilah waktu dan tempat Thawaf sesuai petunjuk panduan dan peraturan. Karena orang haji dan Umrah lebih berhak untuk berada di tempat itu.
Ketika Thawaf, hindarilah keramaian dan kondisi berdesak-desakan. Masuk dan keluarlah dari tempat Thawaf dengan tertib. Shalatlah di tempat yang jauh dari orang- orang yang sedang melakukan Thawaf.

Ada beberapa macam kursi roda yang disediakan untuk Thawaf di Masjidil Haram
Kursi roda khusus jamaah haji
- Orang yang datang dengan kursi roda diizinkan menggunakannya, dengan syarat ia masuk dari tempat khusus kursi roda.
Kursi roda gratis
- Disediakan pula beberapa kursi roda gratis untuk para jamaah Umrah dan haji jika ia bersama orang yang membantunya dalam Sa’i atau Thawaf.
Untuk mendapatkan kursi roda ini bisa dari
- Area timur (pintu masuk angkutan umum)
- Area selatan (samping wakaf Raja Abdul Aziz)
- Area barat (pintu Asy-Syubaikah)
Layanan pendorong kursi roda
- Yaitu kursi roda untuk jamaah haji atau Umrah yang didorong oleh petugas terlatih.
Kursi roda listrik
- Adalah kursi roda-kursi roda listrik yang aman serta mudah dikemudikan dan dikendalikan untuk Thawaf dan Sa’i. Kendaraan ini ada dua macam, yaitu untuk satu orang dan untuk pasangan (dua orang).
Tempat-tempat pelayanan
- Kursi roda-kursi roda listrik bisa ditemukan di lantai pertama untuk Thawaf dan Sa’i
.

Ia merupakan rumah Allah pertama di muka bumi yang dibangun untuk beribadah hanya kepada-Nya, tiada sekutu baginya. Allah Ta’ala berfirman: {Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia}.
Ia merupakan kiblat umat Islam sekaligus jantung hati mereka. Thawaf dalam rangka ibadah hanya dilakukan di sekeliling Kaaba.
Kaaba mempunyai sejumlah simbol yang dilihat oleh orang yang sedang melakukan thawaf, yaitu:
Al-Hathim (Hijr Ismail)
- Ini adalah tempat terbuka yang berbentuk setengah lingkaran yang terdapat di samping Kaaba. Sebagian darinya merupakan bagian dari Kaaba, sehingga shalat di situ sama dengan shalat di dalam Kaaba.
Pintu Kaaba
- Pintu Kaaba terletak di bagian timur Kaaba. Saat ini ia terbuat dari emas murni. Letaknya sekitar 222 cm dari atas permukaan tanah
- Lebar pintu Kaaba: 171 cm
- Tinggi pintu Kaaba: 318 cm
- Penutup Kaaba menggunakan kain khusus yang dinamakan “Sitarah” (tirai penutup)
- Pintu Kaaba yang sekarang dibuat pada masa Raja Khalid bin Abdul Aziz rahimahullah
- Pintu ini terbuat dari emas murni seberat 280 kg
Al-Multazam
- Ia merupakan dinding Kaaba bagian timur, atau bagian darinya. Ia terletak di antara Hajar Aswad dan pintu Kaaba.
- Pengertian Multazam adalah: Orang yang berdoa meletakkan dada, wajah, lengan dan dua telapak tangannya ke dinding ini, lalu ia berdoa kepada Allah Ta’ala dengan doa-doa yang mudah ia sampaikan. Namun, hal itu sulit dilakukan dalam beberapa musim atau di waktu padat.
Al-Mizab
Ia merupakan bagian yang terpasan di atap Kaaba untuk menyalurkan air. Dari situ air turun ke Hijr Ismail.
Asy-Syadzarwaan
- Ia merupakan bangunan pelengkap Kaaba
- Ia mengelilinginya tak ubahnya kain sarung
- Ia bukan bagian dari Kaaba
- Namun ia dibangun dengan tujuan menguatkan bangunan Kaaba dan melindunginya dari banjir.
- Ia terlindungi selama bertahun-tahun.
- Saat ini ia dibungkus dengan marmer berwarna putih.
Hajar Aswad
- Hajar Aswad termasuk batu yang berasal dari surga, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah (Shallallahu alaihi wasallam)
- Ia merupakan tanda permulaan sekaligus akhir Thawaf
- Nabi (Shallallahu alaihi wasallam) mengembalikannya ke tempatnya, ketika kaum Qurays berselisih pendapat tentang siapa yang paling berhak untuk mengembalikannya ke tempatnya
- Hal itu terjadi setelah mereka selesai membangun ulang Kaaba sekitar sebagian bangunannya rusak akibat hujan
- Terletak di sudut tenggara Kaaba
- Dikelilingi oleh logam dari jenis perak untuk melindunginya
- Terletak setinggi 1.5 meter dari atas tanah
- Disyariatkan untuk mencium Hajar Aswad jika hal itu dapat mudah dilakukan dalam rangka mengikuti teladan dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam dengan syarat tidak menyebabkan saling dorong ataupun berdesak-desakan di sekitar Hajar Aswad
- Hajar Aswad disebut demikian karena warnanya yang hitam
- Rasulullah (Shallallahu alaihi wasallam) bersabda, “HajarAswad berasal dari surga. Dahulu sangat putih melebihi putihnya salju hingga kemu-dian menghitam karena dosa-dosa orang musyrik”
Rukun Yamani
- Rukun Yamani merupakan salah satu dari empat rukun Kaaba yang mulia
- Ia dinamakan dengan “Yamani” karena ia terletak dari arah Yaman. Rukun Yamani dan Hajar Aswad dinamakan juga “Dua Rukun Yamani”
.

Lalu Allah SWT mengalirkan air segar tersebut dari bawah kedua telapak kaki anak kecil (Ismail), dan memberinya anugerah berupa keistimewaan dan keutamaan yang tidak bisa ditandingi oleh air manapun di muka bumi, sebagai bentuk pemuliaan terhadap Ibrahim, putranya, dan istrinya, dan juga generasi setelahnya yaitu umat Nabi Muhammad (Shallallahu alaihi wasallam).
Informasi tentang Air Zamzam di Dua Kota Suci (Al-Haramain)
- Air Zamzam disediakan di beberapa wadah khusus untuk minum di berbagai penjuru tanah Haram Makkah dan Madinah dalam dua jenis, yaitu yang dingin dan tidak dingin.
- Disediakan pula beberapa gelas plastik untuk minum di sebelah kanan, lalu setelah digunakan untuk minum, gelasnya diletakkan di keranjang sampah sebelah kiri.
- Petugas pengairan secara berkala mengisi ulang wadah tersebut. Memindahkan wadah dari tempatnya dapat mengganggu mereka dalam menyelesaikan tugasnya.
- Wadah ini disiapkan untuk minum saja. Menggunakannya untuk berwudhu atau membawanya keluar dari tanah Haram dianggap memboroskan air Zamzam, dan bisa membuat para jamaah terpeleset dan menyebabkan pencemaran.

Dua Rakaat Thawaf
- Setelah menyelesaikan Thawaf, ia disunnahkan mengerjakan dua rakaat shalat yang hukumnya Sunnah muakkadah bagi setiap orang yang selesai melakukan Thawaf untuk haji maupun Umrah atau Thawaf Sunnah mutlak.
- Pada rakaat pertama ia disyariatkan membaca surah Al-Kafirun, dan pada rakaat kedua ia membaca surah Al-Ikhlash. Karena Thawaf merupakan syiar tauhid dan penyembahan hanya kepada Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, maka disyariatkan ia mengeraskan bacaan surah-surah tersebut yang dibaca ketika selesai Thawaf.
- Jika memungkinkan, ia disunnahkan mengerjakan shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim sekiranya Maqam tersebut berada di antara dirinya dan Ka’bah, dan ia harus mematuhi arahan petugas keamanan. Setiap tempat di tanah Haram sah digunakan untuk shalat dua rakaat Thawaf. Aturan ini untuk melindungi hak orang-orang yang Thawaf karena mereka yang lebih utama dan berhak terhadap tempat untuk shalat.

Seperti halnya dalam rangkaian ibadah haji dan Umrah lainnya, Thawaf termasuk ibadah agung yang dilakukan orang muslim karena meneladani Rasulullah (Shallallahu alaihi wasallam), serta meniru tata cara pelaksanaan, sifat, dan keadaannya, karena hal itu merupakan sarana yang agung bagi hamba-hamba Allah untuk mencintai-Nya, sebagaimana firman-Nya: {Katakanlah, apabila kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu}.
Di antara kesunnahan-kesunnahan Thawaf adalah
Bertakbir
- Orang yang sudah sejajar dengan Hajar Aswad atau cahaya hijau di lantai-lantai atas ketika memulai dan mengakhiri putaran Thawaf, ia disunnahkan mengangkat kedua tangannya seraya mengucapkan Allahu Akbar.
Berdoa
- Thawaf mengelilingi Ka’bah dianggap salah satu tempat paling agung untuk berdoa dan merendahkan diri kepada Allah SWT. Rasulullah (Shallallahu alaihi wasallam) menyibukkan diri di setiap waktu dalam Thawafnya dengan berdoa dan berdzikir. Setelah melewati Rukun Yamani (akhir Rukn sebelum Hajar Aswad) beliau berdoa: Rabbana Atina fi Ad-Dunya Hasanah wa fi Al-Akhirah Hasanah wa Qina ‘Adzab An-Nar.
- Orang yang sedang Thawaf berdoa dengan memohon kebaikan dunia dan akhirat yang dibutuhkannya dengan bahasanya sendiri, karena berdoa yang paling utama adalah yang sesuai dengan hati dan lisannya.
- Doa yang paling agung dan paling banyak berkahnya adalah doa dari Al-Qur’an dan doa-doa Rasulullah (Shallallahu alaihi wasallam).
Al-Idhthiba’ (Memasukkan kain ihram dari bawah ketiak kanan dan menutup yang kiri)
- Disunnahkan bagi laki-laki ketika Thawaf Umrah untuk menampakkan bahunya yang kanan karena mengikuti apa yang dilakukan Nabi SAW. dan itu khusus pada Thawaf Umrah dan Thawaf Qudum.
Al-Raml (mempercepat jalan Thawaf)
- Disunnahkan bagi laki-laki jika memungkinkan, untuk mempercepat langkah mereka dan berjalan cepat dengan langkah yang pendek dalam tiga putaran pertama karena mengikuti Sunnah Rasulullah (Shallallahu alaihi wasallam), dan menyempurnakan empat putaran sisanya dengan berjalan biasa dalam Thawaf Umrah dan Qudum.
Shalat dua rakaat Thawaf
- Orang yang selesai mengerjakan Thawaf disunnahkan mengerjakan shalat dua rakaat dengan membaca surah Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surah Al-Ikhlash pada rakaat kedua.

Simbol-simbol tempat Thawaf, antara lain:
Ka’bah yang mulia
- Ka’bah merupakan kiblat umat Islam, sekaligus jantung hati mereka. Thawaf dalam rangka ibadah kepada Allah hanya boleh dilakukan di sekeliling Ka’bah.
Maqam Ibrahim
- Ia merupakan batu yang dipijak oleh Ibrahim alaihissalam ketika membangun Ka’bah yang mulia. Ia merupakan salah satu tanda-tanda kekuasaan Allah yang tampak jelas di Masjidil Haram. Sebagaimana firman Allah; Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim.

